Lagi-lagi aku
tergelitik oleh lucunya perilaku manusia. Kali ini masalah realita politika.
Entah apa yang sesungguhnya terjadi? Namun perkara ini sukses membuat otakku
berpikir begitu keras dan hati ku teraduk-aduk air garam. Mana yang benar mana
yang salah. Aku rasa tiada kebeneran namun tiada kesalahan. Bagaimana aku bisa
berdiri untuk sebuah kebenaran yang salah dimata yang lainnya? Haruskah aku
terpancing mengutarakan segalanya? Boleh bermain ekspresi dan kata-kata namun
tak bisa membodohi apa kata hati. Lantas tutur ini harus bagaimana? Bersikap
netral dan diam saja sudah tak bisa tertahankan. Ingin meledakkan semuanya. Ini
sudah menyangkut perihal-MU gejolak benar salah selalui menghantui. Dosakah aku
hanya karena menangis melihat sang pahlawan kehilangan separuh kemampuannya
akibat jubah terbangnya terpotong? Dosakah aku jika berkata berilah ia satu
kesempatan untuk memperbaiki segalanya? Kita juga tak bisa melupakan
kebaikan-kebaikannya, bukan? Namun aku percaya kebaijkanMU. Engkau lah maha
penulis skenario besar. Kejadian ini sampai detik ini aku mencurahkan seluruh
isi melewati tulisan adalah rencana-Nya. Setelah dipikir-pikir semua ini karena
media massa. Hatiku terluka, hati masyarakat terluka, terpancing emosi,
berperilaku anarki.
Namun jika diriku
mencoba menelaah setiap perkara redaksional kata, berusaha membedakan mana yang
asli mana yang palsu. Sungguh semua terlihat sama.
Kembali ke inti
Seperti drama-drama
korea kolosal yang sering aku lihat.
Seorang raja harus
mengutamakan keselamatan seluruh rakyat dengan mengorbankan nyawa seorang
rakyat yang tidak bersalah (dalam konteks ini benar salah selalu menjadi bias).
Selalu sang ksatria tokoh utama mendebat sang raja dengan berkata : “Apakah
mengutamakan rakyat berarti menyelamatkan nyawa seorang raja? Seorang rakyat
biasa yang tidak bersalah harus dihukum mati agar tidak terjadi kegaduhan
didalam sistem pemerintahan serta nyawa raja terselamatkan dari amukan massa. Itu namanya keegoisan.
Namun masuk akal. Masuk akal orang biasa. Tapi tidak untuk saya.”
Semua yang ada di
sebuah film ataupun drama sungguh memang cerminan dunia nyata. Aku baru sadar
itu.
Yah, inilah cobaan
inilah hukuman inilah pelajaran dan semoga tidak untuk bahan tiruan.
Sekali lagi ini menyadarkaku bahwa mulutmu adalah
harimaumu. Memang benar sebuah perkataan yang terekam adalah senjata paling
mematikan didunia. Semoga ini menjadi pelajaran bagi seluruh manusia.
Jangan hanya
bertutur kata baik namun sibuk bercitra sana sini menebar kepalsuan untuk
kepentingan pribadi dengan mencuri uang kami.
Namun juga jangan
hanya bertindak bersih tetapi berkata buruk dan mengumpat kasar kesana kemari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar