Translate

Kamis, 15 Februari 2018

Sebuah majas politika


Lagi-lagi aku tergelitik oleh lucunya perilaku manusia. Kali ini masalah realita politika. Entah apa yang sesungguhnya terjadi? Namun perkara ini sukses membuat otakku berpikir begitu keras dan hati ku teraduk-aduk air garam. Mana yang benar mana yang salah. Aku rasa tiada kebeneran namun tiada kesalahan. Bagaimana aku bisa berdiri untuk sebuah kebenaran yang salah dimata yang lainnya? Haruskah aku terpancing mengutarakan segalanya? Boleh bermain ekspresi dan kata-kata namun tak bisa membodohi apa kata hati. Lantas tutur ini harus bagaimana? Bersikap netral dan diam saja sudah tak bisa tertahankan. Ingin meledakkan semuanya. Ini sudah menyangkut perihal-MU gejolak benar salah selalui menghantui. Dosakah aku hanya karena menangis melihat sang pahlawan kehilangan separuh kemampuannya akibat jubah terbangnya terpotong? Dosakah aku jika berkata berilah ia satu kesempatan untuk memperbaiki segalanya? Kita juga tak bisa melupakan kebaikan-kebaikannya, bukan? Namun aku percaya kebaijkanMU. Engkau lah maha penulis skenario besar. Kejadian ini sampai detik ini aku mencurahkan seluruh isi melewati tulisan adalah rencana-Nya. Setelah dipikir-pikir semua ini karena media massa. Hatiku terluka, hati masyarakat terluka, terpancing emosi, berperilaku anarki.
Namun jika diriku mencoba menelaah setiap perkara redaksional kata, berusaha membedakan mana yang asli mana yang palsu. Sungguh semua terlihat sama.
Kembali ke inti
Seperti drama-drama korea kolosal yang sering aku lihat.
Seorang raja harus mengutamakan keselamatan seluruh rakyat dengan mengorbankan nyawa seorang rakyat yang tidak bersalah (dalam konteks ini benar salah selalu menjadi bias). Selalu sang ksatria tokoh utama mendebat sang raja dengan berkata : “Apakah mengutamakan rakyat berarti menyelamatkan nyawa seorang raja? Seorang rakyat biasa yang tidak bersalah harus dihukum mati agar tidak terjadi kegaduhan didalam sistem pemerintahan serta nyawa raja terselamatkan dari amukan massa. Itu namanya keegoisan. Namun masuk akal. Masuk akal orang biasa. Tapi tidak untuk saya.”
Semua yang ada di sebuah film ataupun drama sungguh memang cerminan dunia nyata. Aku baru sadar itu.
Yah, inilah cobaan inilah hukuman inilah pelajaran dan semoga tidak untuk bahan tiruan. 
Sekali  lagi ini menyadarkaku bahwa mulutmu adalah harimaumu. Memang benar sebuah perkataan yang terekam adalah senjata paling mematikan didunia. Semoga ini menjadi pelajaran bagi seluruh manusia.
Jangan hanya bertutur kata baik namun sibuk bercitra sana sini menebar kepalsuan untuk kepentingan pribadi dengan mencuri uang kami.
Namun juga jangan hanya bertindak bersih tetapi berkata buruk dan mengumpat kasar kesana kemari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar