Translate

Kamis, 15 Februari 2018

Sebuah Puisi Tak Berjudul


Tak Berjudul
(deyy)

Apa yang dirindukan setelah kekeringan?
Tetesan hujan merupakan dambaan
Aroma tanah menguap menimbulkan kesejukan
Angin mulai berhembus manis
Perlahan namun pasti rintikan air mata awan jatuh menggetarkan bumi
Seakan tak mau kalah
Hati ini pun mengikuti irama hujan
Seketika semua terjatuh diiringi bayang-bayang kehidupan
Sungguh menyenangkan dan membawa kelegaan
Namun tercampur kekecewaan dan penyesalan
Menenangkan karena yang ditunggu telah datang
Menyakitkan karena yang terjadi tidak sesuai harapan
Terdapat banyak kesalahan
Bahkan hujan gerimis pun membuat basah
Apalagi badai dan angin kencang
Namun semua harus tetap berjalan, bukan?
Seperti hujan yang hanya singgah untuk sementara menyapa manusia di bumi
Samapi berjumpa dilain kesempatan.

Puisi Irama


Irama Realita
(Rahmawati Deylla Handida)

Dunia tak pernah berpihak
Kerumunan selalu menyudutkan
Perkataan tajam merobek hati memecah gendang telinga
Terlempar kesudut dunia tak berpenghuni
Semua nampak kabur menghitam lalu memutih
Secercah cahaya muncul beriringan dengan genderang berirama
Semakin dekat, semakin mendekat
Untaian kata penyemangat jiwa melalui notasi indah mendayu-dayu
Orang bilang itu yang dinamakan lembayung ketukan realita
Dentuman mendobrak kalbu membakar sakitnya hati
Lalu melembut sesuai alunan melodi
Mulai saat itu candu adalah musik
Ramuan rentetan nada berbaris terpetik sangat cantik
Dipadukan dengan syair menambah apik
Seperti detakan jantung yang selalu seragam dengan denyutan nadi
Musik merupakan sel darah yang terus mengaliri arteri dan vena
Dikala yang lain menjadi lawan ialalah satu-satunya kawan yang paling menawan
Menuntun jalan dan berlari beriringan.

Persepsi


Kenapa manusia sering kali mengira-ngira apa yang sebetulnya tidak mereka ketahui sama sekali. Berdalih mengumpulkan fakta  dan berspekulasi kemudian menarik kesimpulan berdasar pengalaman pribadi serta sudut pandang tak bertanggung jawab yang sebenarnya hanya refleksi kedengkian hati. Benar, tak ada yang salah dengan semua itu. Tapi kemudian menjadi sedikit rusuh ketika hasil analisa tak berdata di umbar kesana kemari dari mulut ke mulut menebar benci pada satu obyek yang menurut mereka salah hanya berdasar prakira dan praduga tak masuk akal. Sudah menjadi dasar manusia ketika mereka seringkali terombang ambing oleh suara hati dan pikiran yang bertolak belakang dengan realita hidup yang ada. Seharusnya mereka sibuk perihal memperbaiki diri sendiri yang selalu jauh dari sempurna karena memang begitulah adanya, bukan malah lari kesana kemari mencari-cari buruknya orang-orang yang  mereka anggap musuh.

Usia tak pernah menjamin kedewasaan seorang manusia. Semua tergantung pada keputusan mereka, memilih menjadi balita atau manusia seutuhnya. Jangan apa-apa dibawa rasa lalu menjauhi realita.

Sering kali manusia lupa, apa yang sudah mereka simpulkan sebagai penjahat maka melalui sudut pandang mereka itu akan selamanya menjadi jahat. Untuk itu dibutuhkan pikiran yang terbuka, hati yang lapang dada, dan otak yang cerdas untuk tidak menerka apa-apa hanya berdasar perasaan iri semata. Hati yang bersih akan menuntun kita pada hal-hal yang mebuat kita ikhlas dan sabar terhadap segala perlakuan. Pikiran yang terbuka dapat membuat kita menerima setiap perbedaan sekalipun itu tidak sesuai dengan prinsip hidup kita. Otak yang cerdas tentu menggiring kita pada analisa-analisa yang akurat tanpa terbawa perasaan yang mendalam. Ingat, orang cerdas tidak akan menertawakan orang lain karena berbeda dengan kita. Karena perbedaan bukan bahan bercandaan.
Apa yang menurutmu paling mengganggu? Apa yang menurutku paling mengganggu? Adalah seseorang yang membicarakan kejelekan teman sendiri kepada teman yang lainnya. Hei, jangan menghasutku dalam masalah hati mu yang diselubungi rasa benci dan iri. Sekali dia mampu berucap kelemahan temannya padamu, bukan berarti dia tidak bisa melakukan itu pada mu.

Sebuah majas politika


Lagi-lagi aku tergelitik oleh lucunya perilaku manusia. Kali ini masalah realita politika. Entah apa yang sesungguhnya terjadi? Namun perkara ini sukses membuat otakku berpikir begitu keras dan hati ku teraduk-aduk air garam. Mana yang benar mana yang salah. Aku rasa tiada kebeneran namun tiada kesalahan. Bagaimana aku bisa berdiri untuk sebuah kebenaran yang salah dimata yang lainnya? Haruskah aku terpancing mengutarakan segalanya? Boleh bermain ekspresi dan kata-kata namun tak bisa membodohi apa kata hati. Lantas tutur ini harus bagaimana? Bersikap netral dan diam saja sudah tak bisa tertahankan. Ingin meledakkan semuanya. Ini sudah menyangkut perihal-MU gejolak benar salah selalui menghantui. Dosakah aku hanya karena menangis melihat sang pahlawan kehilangan separuh kemampuannya akibat jubah terbangnya terpotong? Dosakah aku jika berkata berilah ia satu kesempatan untuk memperbaiki segalanya? Kita juga tak bisa melupakan kebaikan-kebaikannya, bukan? Namun aku percaya kebaijkanMU. Engkau lah maha penulis skenario besar. Kejadian ini sampai detik ini aku mencurahkan seluruh isi melewati tulisan adalah rencana-Nya. Setelah dipikir-pikir semua ini karena media massa. Hatiku terluka, hati masyarakat terluka, terpancing emosi, berperilaku anarki.
Namun jika diriku mencoba menelaah setiap perkara redaksional kata, berusaha membedakan mana yang asli mana yang palsu. Sungguh semua terlihat sama.
Kembali ke inti
Seperti drama-drama korea kolosal yang sering aku lihat.
Seorang raja harus mengutamakan keselamatan seluruh rakyat dengan mengorbankan nyawa seorang rakyat yang tidak bersalah (dalam konteks ini benar salah selalu menjadi bias). Selalu sang ksatria tokoh utama mendebat sang raja dengan berkata : “Apakah mengutamakan rakyat berarti menyelamatkan nyawa seorang raja? Seorang rakyat biasa yang tidak bersalah harus dihukum mati agar tidak terjadi kegaduhan didalam sistem pemerintahan serta nyawa raja terselamatkan dari amukan massa. Itu namanya keegoisan. Namun masuk akal. Masuk akal orang biasa. Tapi tidak untuk saya.”
Semua yang ada di sebuah film ataupun drama sungguh memang cerminan dunia nyata. Aku baru sadar itu.
Yah, inilah cobaan inilah hukuman inilah pelajaran dan semoga tidak untuk bahan tiruan. 
Sekali  lagi ini menyadarkaku bahwa mulutmu adalah harimaumu. Memang benar sebuah perkataan yang terekam adalah senjata paling mematikan didunia. Semoga ini menjadi pelajaran bagi seluruh manusia.
Jangan hanya bertutur kata baik namun sibuk bercitra sana sini menebar kepalsuan untuk kepentingan pribadi dengan mencuri uang kami.
Namun juga jangan hanya bertindak bersih tetapi berkata buruk dan mengumpat kasar kesana kemari.

Penggalan Hidup


Kenapa orang suka sekali mengeluh?
Kenapa mereka suka menampakkan beban mereka di muka publik?
 Kenapa manusia selalu merasa dirinya paling menderita?
Kenapa sulit untuk kita belajar dan menjadi dewasa pikir?
Kenapa harus saling menyalahkan?
Manusia paham akan kekurangannya sendiri namun dengan egoisnya meminta orang lain menerima dia apa adanya tanpa mau berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Kenapa melakukan kesalahan selalu terlihat sebagai hal yang fatal?
Bukankah manusia harus melakukan kesalahan untuk bertahan hidup, untuk menjadi lebih baik, dan untuk mengurangi skala kemungkinan salah di masa yang akan datang?
Sering kali kita hanya peduli pada satu masa. Hanya terpusat pada apa yang ada dipikiran kita. Padahal hidup tak melulu tentang satu realita. Banyak aspek kehidupan yang sebenarnya harus di jalani, di lalui, di hidupi agar semua nampak seimbang.
Keseimbangan lah salah satu alasan yang membuat hati lega nan bahagia.
Kita hidup untuk ini, tapi kita juga harus hidup untuk itu.That is balancess.
Jawaban-jawaban yang aku butuhkan untuk setiap pertanyaan yang berkecamuk di dalam benak jiwa. Kepada siapa aku harus menuntut balasan tanya? Semua sudah jelas sebenarnya. Mintalah semua pada Tuhan mu. Dia akan menjawab setiap detail pertanyaan yang kau lontarkan dalam sujudmu. Lantas kapan jawaban itu akan datang? Bagaimana keresahan ini akan hilang? Aku bertanya pada diriku namun sebenarnya aku pun tau bagaimana jalan datangnya jawab.
Satu per satu jawaban akan datang bukan melalui mimpi melainkan hal-hal yang terjadi dalam hidup ini.
Mulai ketika bangun pagi, saat ku membuka kedua mata ini, saat aku berjalan menuju kamar mandi, saat aku mulai bercengkrama pagi dengan ibu dan keluarga lain, saat aku mulai menarik gas menuju rutinitas setiap hari, sampai aku kembali lagi ke dalam bilik tuk memejamkan mata kembali, untuk menanti rutinitas esok lagi.

Sepenggal-penggal jawaban pasti hadir dalam setiap langkah rutinitas, tergantung bagaimana kita berhenti sejenak dan mengkaji apa yang telah kita lalui hari ini. Pikirkan setiap penggal hari mu saat kau selesai mengucap salam dalam solatmu. Setiap langkah yang kita jajaki pastilah memiliki arti dan maksud dari sang Ilahi.
Namun sulit memang, bisa berhenti dan merenung sejenak terhadap sikap kita selama ini. Kebanyakan akan terlarut dalam kebahagiaan berlebihan yang sebenarnya adalah pangkal kemurungan. Kebanyakan akan terpuruk dalam kesedihan tak seberapa namun dilebih-lebihkan.
Apakah kita semua harus menunggu titik balik hidup baru tersadar? Mungkin iya. Karena diriku pun begitu awalnya.