Rindu, Kamu
(deyy)
Singkat bak badai yang berhembus dengan kekuatan tinggi
Namun gemuruh suaranya seperti desiran angin laut yang
selalu minta untuk dirindu
Sentuhan lembut tingkahnya melalui sorotan mata yang malu
tapi mau
Mengapa matahari tergesa-gesa menggantikan bulan kala itu?
Mengapa waktu tak berhenti saja pada jarum diangka itu?
Membiarkan tubuhanya pulang pada pelabuhan yang sebenarnya
sungguh menggoreskan rindu nan dalam
Selepasnya hanya bersua melalui pesan-pesan semu tak sarat
arti
Tak puas jika tidak bertukar tutur suara yang hangat
ditelinga
Katanya tak akan jenuh. Benarkah?
Seperti ini jadinya malah aku yang mengukirkan harap cemas
atasmu
Disana pasti banyak permata dan berlian yang jauh lebih
indah
Tapi bisakah tak tergoda akan solek kemilau lainnya?
Bisakah kita selamanya? Setidaknya coba saja hingga benar
takdir yang mematahkan
Kembalilah karena itu akan melegakan
Pijaklah lagi tanah istimewa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar